ENERGIOil & Gas

Pertamina International Shipping Raih Gold di Ajang WISCA 2024

PT Pertamina International Shipping akan terus berakselerasi menuju budaya Generatif.

Konstruksi Media, Jakarta – PT Pertamina International Shipping (PIS), salah satu anak usaha Pertamina yang bergerak di bidang usaha pengapalan, meraih penghargaan Gold dalam ajang WSO Indonesia Safety Culture Award (WISCA)/WSO Pakistan Safety Culture Award (WPSCA) yang diselenggarakan di Patra Jasa Towers, Selasa (30/4/2024).

Penghargaan itu diserahkan oleh Ketua Pelaksana WISCA/WPSCA 2024, Rieka Idroes, dari World Safety Organization (WSO) Indonesia dan diterima oleh VP HSSE PT Pertamina International Shipping Capt Ade Gunawan.

Menurut Rieka, penghargaan Gold diberikan kepada perusahaan yang telah mencapai tingkat kematangan budaya level 4 atau Proaktif. “Dalam tingkatan ini, perusahaan sudah memandang aspek safety sebagai nilai inti (fundamental core), dan para pimpinan di setiap line secara tulus peduli kepada aspek keselamatan dan kesehatan  semua pekerja dan kontraktornya,” Rieka menjelaskan.

Atas penghargaan tersebut, VP HSSE PIS Capt Ade Gunawan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada WSO Indonesia. Atas penghargaan itu, PIS akan berupaya untuk terus meningkatkan level budaya K3 di lingkungan perusahaan hingga mencapai tingkatan tertinggi dalam pengukuran budaya K3 yaitu Generatif.

“Pencapaian ini  merupakan sebuah kerja keras semua pihak di perusahaan kami. Pencapaian ini tentunya bukan hasil satu atau dua bulan, melainkan proses panjang sehingga kami bisa mencapai tahap ini. Budaya Proaktif  ini tentu bukan menjadi goals. Kami tentunya akan tetap terus berakselerasi menuju Generatif,” kata Capt Ade Gunawan saat ditemui Konstruksi Media usai acara.

VP HSSE PT Pertamina International Shipping Capt Ade Gunawan. (Foto: Konstruksi Media/Hasanuddin)

Dikatakan, pencapaian budaya K3 hingga sekarang ini berada di tahap Proaktif berkorelasi langsung terhadap kelangsungan dan keberlanjutan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga:  Pembangunan Selesai, PLTGU Riau Resmi Beroperasi

Secara langsung, katanya, menurunnya angka kecelakaan kerja dan tingkat keparahan (severity) kecelakaan kerja. Sedangkan secara tidak langsung, budaya K3 menciptakan suasana dan kondisi kerja yang aman dan nyaman bagi seluruh pekerja sehingga akan berdampak pada produktivitas kerja.

Menurut Ade, membangun budaya K3 bukan perkara mudah dan bisa dilaksanakan dalam tempo singkat. Ada banyak parameter yang harus dilakukan secara holistik, terintegrasi, dan berkesinambungan. Antara lain komitmen, kepemimpinan (leadership), komunikasi, kesisteman, dan sebagainya.

“Ada banyak program yang kami jalankan dalam upaya membangun budaya K3 di PIS. Salah satunya adalah program safety leadership, di mana setiap pimpinan mulai tingkat unit hingga ke lebel tertinggi di PIS wajib melaksanakan  kunjungan yang diberinama Management Walk Through atau MWT,” kata Ade.

Baca Juga:  Pertamina Buka Suara Usai Disentil Erick Thohir Soal Toilet SPBU Berbayar

Lewat MWT, program-program safety yang semula berjalan satu arah, menjadi dua arah. Ada proses dialog dan diskusi secara langsung antara pimpinan dan jajaran di bawahnya. Segala aspirasi di jajaran bawah bisa didengar langsung oleh pimpinan.

Program lainnya antara lain adalah PPI yang merupakan singkatan dari Patuh, Peduli, Intervensi. “Patuh terhadap segala ketentuan dan peraturan yang ada, baik undang-undang maupun ketentuan dan peraturan di perusahaan hingga di setiap lokasi proyek atau tempat kerja. Patuh wajib dijalankan oleh seluruh komponen, mulai dari pucuk pimpinan hingga front liner, tanpa kecuali,” Ade menjelaskan.

Mengingat area kerja PIS mencakup seluruh dunia, kata Ade, setiap insan PIS harus tunduk dan patuh terhadap ketentuan dan perundangan yang berlaku di negara-negara lain.

Lalu, Peduli. Setiap insan PIS harus peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. “Peduli terhadap sesama berarti pula learning each other. Terkait lingkungan, kita tahu bahwa lingkungan adalah titipan, karena itu kita wajib menjaga, memelihara dan mewariskannya kepada generasi-generasi setelah kita.”

Baca Juga:  SKK Migas Dorong Peningkatan Investasi Eksplorasi Hingga Rp45 Triliun

Selanjutnya adalah Intervensi. Setiap insan PIS, sambung Ade, wajib melakukan intervensi terhadap situasi dan kondisi tindakan tidak aman. Ade mencontohkan soal kulit pisang di lantai.

“Ketika menemukan ada kulit pisang tergeletak di lantai, kita tidak perlu menanyakan siapa yang membuang tetapi langsung kita singkirkan atau buang sehingga risiko ada pekerja yang terjatuh karena menginjak kulit pisang, bisa langsung dieliminasi,” terangnya seraya menjelaskan bahwa risiko bahaya di industri pelayaran dan perkapalan seperti PIS antara lain adalah kebakaran, bekerja di ruang terbatas (confined space), dan risiko bekerja di ketinggian. Guna memitigasi berbagai risiko tersebut, PIS menerapkan 15 life saving rules.

PT Pertamina International Shipping (PIS) merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang pada 2021 ditunjuk sebagai induk subholding pengapalan di lingkungan Pertamina dengan tiga layanan jasa utama. Yaitu pengapalan (shipping), marine services, dan logistik (logistics).

Saat ini, PIS memiliki lebih dari 90 kapal dan lebih dari 200 kapal dengan bobot beraneka ragam yang siap melayani berbagai kebutuhan pengangkutan migas dan berbagai produk lainnya ke seluruh dunia. (Hasanuddin)

Related Articles

Back to top button