Mining

Garap Proyek Smelter di Gresik, Freeport Dapat Pendanaan Hingga US$1 miliar

Konstruksi Media – PT Freeport Indonesia (PTFI) berhasil mendapatkan pendanaan berupa fasilitas kredit perbankan senilai US$1 miliar untuk membiayai proyek smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur.

Hal ini diungkapkan Chairman & CEO Freeport-McMoRan Richard C. Adkerson dalam laporan kinerja kuartal II/2021. Freeport-McMoRan Inc. sendiri merupakan salah satu pemegang saham PTFI.

“PTFI baru-baru ini menandatangani fasilitas kredit bank senilai US$1 miliar, 5 tahun, tanpa jaminan untuk memajukan proyek-proyek ini,” ujar Richard C. Adkerson yang dikutip Minggu (25/7/2021).

Baca Juga:  Menteri Investasi Bahlil Beberkan Rencana Jokowi Bangun Smelter di Papua

Menurutnya, pembiayaan utang tambahan itu sedang direncanakan dengan biaya semua utang tersebut dibagi 49 persen oleh Freeport dan 51 persen oleh PT Inalum (Persero).

Dia merinci, rencana pembangunan smelter di Gresik akan dilanjutkan dengan dua cara.

Pertama, ekspansi kapasitas fasilitas smelter tembaga yang sudah ada di Gresik hingga 300.000 metrik ton konsentrat atau 30 persen dari kapasitas saat ini. Estimasi biayanya diperkirakan mencapai US$250 juta.

Freeport sebelumnya telah membangun fasilitas smelter tembaga di Gresik yang kini dikelola oleh PT Smelting-Gresik.

Kapasitas inputnya saat ini mencapai sekitar 1 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan menghasilkan produk utama katoda tembaga sebesar 300.000 ton per tahun. Fasilitas smelter tersebut memurnikan kurang lebih 40 persen dari produksi konsentrat tembaga Freeport.

Baca Juga:  Anak Usaha KALLA Bangun Smelter Nikel di Sulsel

Kedua, dengan adanya ekspansi smelter PT Smelting, kapasitas smelter baru di Gresik diturunkan dari 2 juta metrik ton menjadi 1,7 juta metrik ton konsentrat per tahun.

Pada 15 Juli 2021, Freeport dan PT Chiyoda International Indonesia menandatangani kontrak kerja sama kegiatan engineering, procurement, dan construction (EPC) untuk smelter baru tersebut dengan perkiraan biaya US$2,8 miliar.

Selain itu, Freeport juga membangun fasilitas precious metal refinery (PMR) untuk mengolah lumpur dari PT Smelting dan smelter baru di Gresik dengan perkiraan biaya sekitar US$250 juta.

Freeport akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pembangunan smelter tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur dan batal melakukan kerja sama dengan investor asal China, Tsingshan Steel.

Baca Juga:  Dukung Industri Smelter di Sulawesi, PLN Jamin Pasokan Listrik Terpenuhi

Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan bahwa rencana kerja sama dengan Tsingshan untuk membangun smelter di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara tidak berlanjut karena tidak tercapai kesepakatan.***

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button