Air

Empat BUMN Karya Kebut Proyek Bendungan Way Apu di Maluku

Konstruksi Media – Empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya, yakni PT. Pembangunan Perumahan, Adhi Karya, PT Hutama Karya, dan Jaya Konstruksi Jakon mengebut pengerjaan proyek Bendungan Way Apu di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

Bendungan yang difungsikan sebagai bendungan multifungsi berkapasitas tampung 50,05 juta m3 dan ditargetkan selesai Agustus 2023.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono menyebutkan, Bendungan Way Apu dibangun dengan nilai kontrak sebesar Rp.2,08 triliun yang terbagi menjadi 2 (dua) paket.

“Yakni paket 1 berupa konstruksi bendungan utama senilai Rp.1,07 triliun oleh PT. Pembangunan Perumahan – Adhi Karya KSO progresnya mencapai 24,4 %,” ujar Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis, Jum’at (16/7/2021).

Baca Juga:  Gandeng Asosiasi Semen Indonesia, PUPR Dorong Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan

Sedangkan pekerjaan paket 2, ungkap Basuki Hadimuljono, berupa konstruksi bendungan pelimpah (spillway) senilai Rp.1,013 triliun oleh PT Hutama Karya – Jakon KSO progresnya mencapai 25,5 % .

“Sementara supervisi pembangunan bendungan senilai Rp.76 miliar oleh PT Indra Karya,” imbuhnya.

Bendungan Way Apu membendung Sungai Way Apu dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 422,08 hektar merupakan tipe zonal urugan inti tegak dengan tinggi mencapai 72 meter, lebar puncak 12 meter, panjang puncak 490 meter, dan luas daerah genangan mencapai 235,10 hektar.

Apabila sudah beroperasi, Bendungan Way Apu diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar antara lain tersedianya air irigasi seluas 10.000 hektar, tersedianya air baku dengan debit 0,5 m3/detik, mereduksi banjir sebesar 557 m3/detik, dan sebagai tempat pariwisata baru yang akan menumbuhkan perekonomian daerah.

Baca Juga:  Bendung Cikeusik Berusia Lebih 100 Tahun, Basuki: Penting Untuk Pertanian

Selain itu, Bendungan Way Apu yang terletak di dua kecamatan Kabupaten Buru Provinsi Maluku, yaitu di Desa Wapsalit Kecamatan Lolong Guba dan Desa Wea Flan Kecamatan Wae Lata dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik sebesar 8 megawatt yang mampu menerangi kurang lebih 8.750 rumah.

“Pengelolaan sumber daya air dan irigasi terus dilanjutkan dalam rangka mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan. Di samping itu kehadiran bendungan juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal,” jelasnya.

Dikatakan Basuki, pembangunan bendungan akan diikuti dengan ketersediaan jaringan irigasinya. Dengan demikian bendungan yang dibangun dapat segera dimanfaatkan karena airnya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani. ***

Baca Juga:  Pertama di Indonesia, Bendungan Kering Ciawi Berpotensi Jadi Tempat Wisata

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button