Pembiayaan

Aplikasi Digital Banking CIMB Niaga Diyakini Bantu Kontrol Belanja Nasabah

Konstruksi Media – Dalam meningkatkan customer experience seperti nasabah kartu kredit, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mengoptimalisasi aplikasi digital banking agar nasabah dapat memanfaatkan layanan digital untuk mengelola transaksi keuangan dengan baik saat pandemi Covid-19.

Head of Digital Banking, Branchless and Partnership CIMB Niaga Bambang Karsono Adi mengatakan, melalui layanan digital transaksi yang telah dilakukan menggunakan kartu kredit atau sumber dananya dari kartu kredit dapat diubah menjadi cicilan nol persen dengan tenor tiga atau enam bulan tanpa biaya administrasi lagi.

Baca Juga:  Sepakat! PII dan Bank BJB Kembangkan Pembiayaan Infrastruktur Melalui Skema KPBU

“Nasabah dapat mengatur pengeluaran bulanan secara lebih terencana sesuai dengan kondisi keuangannya. Kesempatan tersebut berlaku bagi nasabah yang bertransaksi di toko fisik maupun daring menggunakan metode Scan QRIS OCTO Mobile dengan sumber dana dari kartu kredit atau transaksi dengan kartu kredit,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/8/2021).

Pada situasi saat ini, kata Bambang, pihaknya mendorong nasabah agar tetap bijak dalam berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. “Untuk lebih menghemat, nasabah dapat memanfaatkan program dan promo yang diberikan oleh CIMB Niaga maupun merchant,”katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Tigor M Siahaan melaporkan perolehan laba bersih konsolidasi (unaudited) CIMB Niaga sebesar Rp2,1 triliun pada semester pertama 2021 dan menghasilkan earnings per share Rp85,54. Kondisi itu dapat ditorehkan di tengah ketidakpastian akibat pandemi covid-19 yang belum berakhir.

Baca Juga:  HUT RI Ke-76, Momentum BNI Hentikan Pendanaan Proyek Batu Bara

Selain itu ia mengatakan, CIMB Niaga membukukan pertumbuhan Return On Equity (ROE) menjadi 11,2 persen seiring peningkatan laba bersih sebesar 22,2 persen secara tahun ke tahun (yoy) menjadi Rp2,1 triliun. Pertumbuhan yang baik pada laba bersih didorong oleh peningkatan pendapatan operasional 8,7 persen yoy.

“Sementara biaya operasional secara umum flat, sehingga cost to income ratio turun menjadi 45,1 persen. Adapun biaya pencadangan naik sebesar 5,1 persen,” pungkas Tigor.***

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button