Mining

Peluang Kendaraan Listrik, Smelter Nikel USD1 Miliar Lebih di Pulau Obi Diresmikan

Konstruksi Media – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berharap kawasan smelter nikel high pressure acid leaching atau HPAL di Pulau Obi, Halmahera Selatan dapat menjadi pusat pengembangan dan pertumbuhan di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan Luhut saat meresmikan smelter yang dikembangkan PT Halmahera Persada Legend (HPL) ini dengan nilai investasi lebih dari USD 1 miliar.

“Diharapkan kawasan ini menjadi pusat pengembangan dan pusat pertumbuhan wilayah di Pulau Obi khususnya dan di Halmahera, serta Maluku Utara secara umum,” ujar Luhut dalam keterangannya, Rabu (24/6/2021).

Baca Juga:  Cadangan Daya di Kalselteng 664 MW, PLN Pasok Listrik Hingga 385 MVA ke KI SIIP

Sentra pengolahan bijih nikel HPAL berbasis teknologi hidrometalurgi ini akan mendorong percepatan hilirisasi mineral menuju industrialisasi berbasis baterai dan pengembangan kendaraan listrik. Luhut mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan nikel serta cobalt yang cukup, didukung oleh mineral lainnya, seperti tembaga, alumunium, dan timah.

Potensi ini mendukung daya saing Indonesia di sektor industri kendaraan listrik sebagai produsen baterai. Peningkatan permintaan kendaraan listrik dapat menaikkan permintaan baterai, terutama jenis nickel-cobalt-mangan atau NCM.

“Diprediksi pada 2030, permintaan kendaraan listrik meningkat mencapai 31,1 juta unit. Adapun di Indonesia, pemerintah menargetkan produksi kendaraan listrik dapat menembus 600 ribu unit roda empat dan 2,45 juta roda dua,” katanya.

Baca Juga:  Jokowi Groundbreaking Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Pertama di Indonesia

Luhut melanjutkan, teknologi pengolahan untuk bijih nikel bisa melalui jalur pirometalurgi (RKEF) dan hidrometalurgi. Smelter HPAL akan banyak memanfaatkan bijih nikel dengan kadar yang lebih rendah, yang jumlahnya diklaim melimpah di Indonesia.

Adapun proses HPAL dapat menghasilkan produk nikel kelas satu, yakni Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4). Produk ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai yang memiliki nilai tambah lebih tinggi ketimbang produk yang dihasilkan dari jalur RKEF.

“Untuk itu, kita perlu dukung dan terus didorong untuk terjadi peningkatan investasi agar ada penambahan line produksi sehingga kita mendapat sebesar-besarnya manfaat dari proses produksi ini,” ungkap Luhut.

Baca Juga:  Mega Proyek Rp7,19 Triliun Milik UEA di Aceh, Libatkan CEO Asal Cina

Luhut menyebut, investari smelter ini akan mendorong pembukaan lapangan kerja. Pemerintah, kata dia, akan mendukung peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan dan pendidikan.

“Diperlukan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kerja yang akan bekerja di industri smelter ini,” pungkasnya. ***

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button