Perumahan

Pengamat Sebut Permintaan Rumah Tapak Cukup Tinggi

Konstruksi Media – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) menyebutkan, permintaan rumah tapak selama pandemi masih cukup tinggi.

Saat ini, tidak sedikit pengembang yang meluncurkan produk baru dan mendapat respon cukup baik dari pasar.

“Kami melihat dengan adanya permintaan rumah tapak yang cukup tinggi, pengembang akan terus aktif untuk meluncurkan produk baru di triwulan kedua di mana terdapat dua pengembangan perumahan berskala besar yang diluncurkan sehingga membuktikan bahwa sektor ini sangat diminati baik oleh pengembang, investor, maupun pasar,” ujar Head of Research JLL Yunus Karim dalam konferensi pers, Kamis (22/7/2021).

Bahkan, katanya, tidak sedikit pengembang yang menawarkan promo menarik seperti menambah fitur baru smart home, ventilasi yang baik dan taman mini yang dikemas sebagai sebuah produk untuk menarik para pembeli.

Baca Juga:  Kolaborasi 3 Negara Wujudkan Rumah Terjangkau di Bekasi

“Kami memperkirakan hingga akhir 2021 masih akan ada keaktifan dari para pengembang untuk meluncurkan rumah tapak, khususnya bagi para pengembang yang memiliki lahan luas atau memiliki township perumahan berskala besar,” katanya.

Dia menilai, sektor rumah tapak akan  bertahan di tengah terjangan pandemi Covid-19. Menurutnya, pada akhir tahun 2020, para pengembang perumahan sangat aktif atau cukup aktif dalam meluncurkan produk.

Yunus mengatakan hal-hal tersebut juga berlanjut ke semester I tahun ini dengan para pengembang perumahan masih tetap aktif dan mendapatkan respons cukup baik dari pasar.

Minat pasar terhadap rumah tapak masih cukup tinggi dalam merespons peluncuran produk rumah tapak baru dari pengembang. Permintaan yang mendominasi dari end users dan keterjangkauan harga menjadi faktor yang memengaruhi sektor rumah tapak tetap memiliki performa yang baik.

Baca Juga:  Lewat BSPS, PUPR Bedah 110 Rumah Milik Warga di Pandeglang

“Kita melihat di semester I tahun 2021 hampir 80 persen yang terjual memiliki harga di bawah Rp1,3 miliar sehingga keterjangkauan harga tetap menjadi kunci dari performa sektor ini,” kata Yunus.

Selain itu, pemerintah memberikan stimulus seperti insentif PPN dan relaksasi Loan to Value (LTV ) yang kemudian disertai dengan promosi dari pengembang dan penawaran cara pembayaran yang bervariatif sehingga menunjang keberhasilan penjualan rumah tapak.

Sedangkan untuk sektor apartemen dan kondominium kondisinya berbanding terbalik dari sektor rumah tapak. Penjualan properti pada sektor apartemen dan kondominium masih relatif lemah karena pembeli masih sangat berhati-hati dan menunggu situasi yang tepat untuk melakukan pembelian.

Pada 2020, Yunus melihat sektor apartemen berada di titik terendah sejauh ini di kisaran 1.000 unit saja yang diluncurkan dan hanya mendapatkan respons dari pasar sebesar 10 persen.

Baca Juga:  Kurangi Backlog Perumahan, BTN Gelar IPEX 2022

Sedangkan pada 2021 sendiri kalau melihat secara spesifik untuk triwulan II memang tidak unit apartemen yang diluncurkan oleh pengembang.

“Saat ini terdapat 37.000 unit apartemen yang ditawarkan, dengan 62 persen di antaranya telah terjual. Kemudian kalau kita melihat dari segi harga memang selama beberapa tahun terakhir kita melihat bahwa harga apartemen cenderung datar atau rata, tidak mengalami kenaikan karena pengembang masih melakukan upaya-upaya untuk menarik para pembeli salah satunya dengan cara tidak menaikkan harga dan lebih fokus terhadap memberikan alternatif atau cara bayar agar lebih menarik para pembeli,” tuturnya. ***

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button