Oil & Gas

Tingkatkan Produksi Migas, Pertamina Hulu Mahakam Terapkan Teknologi HEX Straddle Packer

Konstruksi Media – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam menerapkan teknologi HEX Straddle Packer (High Expansion Straddle Packer) untuk mengatasi masalah produksi air di sumur NB-104, di Lapangan Sisi Nubi.

Hal ini dilakukan untuk mempertahankan produksi minyak dan gas bumi dari lapangan-lapangan yang telah mature di WK ini.

General Manager Pertamina SubHolding Upstream Zona 8, Agus Amperianto mengatakan, laju produksi air yang berlebih dapat menurunkan produksi migas dari sumur sehingga dibutuhkan cara untuk menutup zona-zona reservoir yang memproduksi air.

Baca Juga:  Mulai 1 Januari, Pembelian LPG 3 Kg Hanya Bisa Dilakukan Pengguna yang Sudah Terdata

Hal ini menjadi tantangan di WK Mahakam adalah situasi dan karakter reservoir di WK Mahakam yang sangat unik dan berbeda-beda, karena lokasinya yang berada di delta Sungai Mahakam, yang dikenal dengan deltaic system.

“Dikarenakan kondisi sumur yang berbeda-beda, pekerjaan menutup zona reservoir ini tidak mudah, misalnya, di sumur NB-104 lokasi reservoir yang memproduksi air berada di bawah zona restriksi, sehingga cara-cara konvensional seperti pemasangan tubing patch tidak mungkin diterapkan,” kata Agus.

Untuk itu, ungkapnya, tim Well Intervention PHM berkolaborasi dengan Schlumberger dan Interwell mengujicoba teknologi HEX Straddle Packer, yaitu satu teknologi dengan memasang packer yang memiliki dimensi ramping untuk melewati restriksi dan kemudian dengan kemampuan high expansion mengisolasi zona target.

Baca Juga:  PT Pertamina Hulu Mahakam, KKKS Pertama Dapat Fiscal Incentive Pemerintah

Dengan menggunakan teknologi ini, hasilnya zona air bisa ditutup sesuai target dan zona gas yang ada di bawah zona air tadi bisa kembali diproduksikan.

Teknologi yang pertama kali diterapkan di Indonesia oleh PHM ini telah sukses dipasang pada April 2021 lalu dengan mode SIMOPS (simultaneous operation) antara Remote operation Well Intervention (WLI) dan Hydraulic Workover Unit (HWU).

Kini sumur NB-104  telah dapat berproduksi kembali, tanpa diperlukan aktivitas intervensi yang lebih kompleks lagi.

“Inovasi teknologi ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan di PHM untuk mencari cara dalam meningkatkan produksi migas dengan harapan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.  Pengembangan  berbagai teknologi adalah kunci untuk membuka potensi baru serta terbukti mampu memangkas berbagai biaya operasi,” kata Agus.***

Baca Juga:  Transisi Energi, PGN perluasan Infrastruktur Gas Bumi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button